Oleh : Nopriansyah
Manusia dalam kehidupannya tidak akan terlepas dari
kebutuhan akan pertolongan manusia lainnya. Manusia tidak dapat hidup mandiri
sekalipun manusia itu dapat hidup sendiri. Kebutuhan akan bantuan orang lain
dapat terlihat dari kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari seperti sandang,
pangan, dan papan yang digunakan manusia. Islam sangat jelas mengajarkan supaya
seluruh umat muslim untuk saling tolong menolong terutama dalam hal kebaikan, seperti
firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Maidah, 5:2 ; yang artinya : “ Dan saling
tolong menolong lah kamu dalam ( mengerjakan ) kebaikan, dan jangan tolong
menolong dalam berbuat dosa dan keburukan “. ( Al-Maidah 5:2 ).
Dalam surat tersebut
maka jelas sekali kita sebagai muslim dianjurkan untuk saling tolong
menolong dalam kebaikan terutama kita sebagai sesama muslim. Perbuatan-perbuatan baik yang sesuai
dengan norma-norma ajaran islam terlahir dari cinta yang tulus dan sempurna
kepada dan karena Allah yang mendalam dari hati seorang mukmin. Tetapi
kenyataannya pada jaman sekarang ini sangat sulit kita temukan orang-orang
muslim yang dari hatinya sangat tulus untuk melakukan hal-hal seperti ini tanpa
imbalan dan dorongan apapun.
Jaman sekarang seseorang akan melakukan kebaikan
seperti menolong sesama muslim dan mukmin dalam kesulitan hanya untuk mendapatkan
imbalan atau sejenisnya, yang bisa dikatakan juga jika untung maka dilakukan
tetapi jika merasa tidak ada untungnya dibiarkan begitu saja. Padahal kebaikan
sekecil apapun akan dibalas oleh Allah SWT dikemudian hari dan sangat berguna
sekali bagi yang membutuhkan walaupun hanya bentuk yang kecil, asalkan
dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah.
Hal seperti ini bukan hanya topik atau omongan
belaka, akan tetapi hal semacam ini adalah fakta dikehidupan kita. Nilai-nilai
sosial untuk membantu sesama manusia terutama muslim untuk sekarang sudah mulai
luntur dan hilang. Desa yang dulunya sangat memegang dan menjunjung nilai-nilai
tersebut sekarang sudah mulai hilang, apalagi diperkotaan nilai-nilai tersebut
sangatlah langka untuk dijumpai. Hal ini bisa disebabkan oleh keegoisan
individu manusia yang lebih mementingkan urusan atau perihal peribadi
dibandingkan untuk menolong orang yang kesusahan walaupun waktu untuk melakukan
hal itu ada. Diperkotaan jiwa sosial seorang manusia sudah hilang, walaupun
masih ada sedikit orang yang masih menanamkan nilai-nilai tersebut didalam
jiwanya. Padahal jika ditelaah lebih dalam, kesempatan seseorang untuk menolong
sesama sangatlah banyak, akan tetapi budaya acuh terhadap orang seperti itu
sudah tumbuh didalam jiwanya.
Sebagai contoh ketika dilampu merah melihat seorang muslimah yang memakai jilbab
sedang menuntun motornya sendirian karena mogok dan menepi dipinggir jalan,
tidak ada seorang pun dari sekian banyak pengendara dijalan tersebut yang mau
berhenti atau menanyakan ada apa ?, apa ada yang bisa saya bantu ?, padahal
diantara para pengendara tersebut pasti sebagian banyak adalah muslim. Akan
tetapi dengan rasa acuh dan pura-pura tidak melihat atau dengan anggapan itu
bukan urusan saya dan tidak kenal juga siapa dia ?, semua pengendara hanya melewati seorang
muslimah yang menuntun motor tersebut, padahal mereka mengetahui bahwa
pertolongan sangat dibutuhkan dan jika mereka
menolong juga tidak akan memerlukan waktu yang lama. Hal semacam ini
sangatlah jelas menggambarkan bahwa jiwa sosial dan saling menolong sudah
hilang dalam jiwa seseorang.
Seharusnya, jika kita menganggap diri kita muslim
yang memegang teguh ajaran Allah SWT dan berjiwa sosial sebagai manusia, maka
hati kita akan tergerak jika melihat hal-hal semacam itu. Bisa jadi tanpa
disadari perbuatan kita akan dibalas Allah dikemudian hari dengan balasan
sepuluh kali lipat dari apa yang kita perbuat. Jika ada kesempatan untuk
menolong seseorang, jangan sia-siakan kesempatan tersebut. Kebaikan atau
pertolongan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan akan jauh
bermanfaat dari apa yang kita butuhkan, begitu juga jika pertolongan itu datang
kepada kita disaat sedang dibutuhkan, hal tersebut sangatlah bernilai tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar